Kamis, 25 Agustus 2011

Jamuan Ramadhan

UNTUK menjadi baik, manusia
membutuhkan pendidikan. Ibadah puasa
merupakan proses pendidikan untuk
menempa manusia agar mengedepankan
perilaku mulia. Melalui ibadah puasa, sikap
pengendalian diri adalah hal utama. Tidak
hanya menahan lapar dahaga dari terbit
fajar hingga matahari terbenam, namun
juga mengekang nafsu tercela. Ada proses
pendidikan dalam ibadah puasa yang
memusat pada pembentukan manusia
bertakwa.
Jika ibadah puasa Ramadan bermaksud
menjadikan manusia bertakwa, maka
perwujudan manusia bertakwa itu tidaklah
menjelma seketika. Diperlukan kesadaran
dan pemahaman hakiki terkait ibadah
puasa. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW
disebutkan bahwa banyak orang berpuasa
tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar
dan dahaga. Tak ada buah dari ibadah
puasa jika dijalankan tanpa pemaknaan
mendalam.
Perjamuan Ramadan
Pada dasarnya manusia merupakan
makhluk lemah. Manusia bukanlah
jama’ah malaikat yang terlepas dari
khilaf dan dosa. Sebaik-sebaik manusia
pastilah pernah berbuat kesalahan dan
kekeliruan. Manusia suci tanpa dosa itu tidak ada kecuali para nabi dan rasul.
Kepemilikan kesadaran bahwa tidak ada
manusia yang bersih dari kesalahan
mengajak manusia menikmati perjamuan Ramadan. Bulan Ramadan merupakan perjamuan yang diselenggarakan Tuhan agar manusia menempa dirinya menjadi manusia baik, manusia yang bertakwa.
Sudak jamak dimengerti, takwa dalam
definisi klasik diartikan sebagai sikap dan perilaku untuk konsisten mematuhi
perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Dengan menjalankan ibadah puasa
Ramadan diharapkan agar manusia taat
terhadap ketentuan Tuhan. Namun, tidak setiap manusia bisa menghadiri perjamuan Ramadan dalam upaya meningkatkan kualitas diri dan
kemanusiaannya. Ibarat perjamuan makan di istana, hanya orang-orang yang berkepentingan sajalah yang hadir. Dengan kata lain, manusia yang tidak
berkepentingan dengan ibadah puasa
Ramadan dipastikan tidak akan menghadiri perjamuan Ramadan. Nah, adakah kita berkepentingan dengan perjamuan Ramadan yang menyuguhkan hidangan pahala, ampunan dosa, dan nikmat-nikmat Tuhan lainnya? Setiap diri kita tentu
berkeinginan melahap hidangan tersebut. Namun, amat disayangkan jika kepentingan kita pada bulan Ramadan bukan untuk memperbaiki diri. Disadari atau tidak, pada bulan Ramadan banyak dari kita memanipulasi identitas diri di hadapan Tuhan Yang Maha Menyaksikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar